SEJARAH

Sejarah Laskar Santri Nusantara

Laskar Santri Nusantara di deklarasikan pada hari Kamis malam jum’at 21 Mei 2014 di Ponpes Al-Qudwah Al-Muqoddasah, Jl. Kayu Tinggi, Cakung, Jakarta timur. Deklarasi Laskar Santri Nusantara di latar belakangi atas kepercayaan para santri dan pengasuh pondok pesantren.

Tepat pada tanggal 21 mei 2014 di Ponpes Al-Qudwah al-Muqoddasah, Jl. Kayu Tinggi, Cakung, Jakarta timur para tokoh-tokoh NU yang antusias dalam dunia politik mendeklarasikan Laskar santri Nusantara yang di motori oleh Marwan Jafar, Muhaimin Iskandar , Imam Nahrawi, Abdul Kadir Karding, Jazilul Fawaid, Hanif Dhakiri, Bambang Susanto, Yusuf Mujenih dan Ogy Sugiyono. Deklarasi Cakung ini ditunjuklah ketua LSN Cakung yaitu Bpk. Mursyid S. Ag, serta sekretaris  Abdul Wadud.

Setelah Dekalarasi Cakung kemudian mengalir deklarasi di beberapa provinsi diantaranya DKI Jakarta Terbentuk Laskar Santri Nusantara pada tanggal 26 Mei 2014 di RM. Nusa Dua, senayan Jakarta Pusat. Deklarasi ini di Gawangi Oleh Saudara Muhamad Utomo selaku Ketua Korda LSN DKI serta Andy Noer Rochman dan Didik Setiawan serta puluhan santri dari penjuru DKI, serta dihadiri Marwan Jafar dan sahabat Ogy Sugiyono.

Di Jawa Barat deklarasi dilakukan Selasa, 27 Mei 2014 di Bandung yang  diikuti sekitar 200 santri dari 25 pesantren di Jabar, di antaranya pesantren dari Karawang, Purwakarta, Bandung Raya, seperti Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Cimahi dan Sumedang,  Garut, Ciamis, Cianjur, dan lainnya. Deklarasi Bandung diketuai oleh misbah dan turut hadir Syaipul Huda.

Di Jawa Tengah deklarasi dilakukan di Semarang Kamis, 29 Mei 2014 di Pondok Pesantren Al Ishlah, Kelurahan Mangkang Kulon. Deklarasi dilakukan secara simbolis dengan penyematan rompi Laskar Santri Nusantara oleh Muhaimin Iskandar (Cak Imin) kepada perwakilan santri, antara lain disaksikan Ketua DPW PKB Jawa Tengah Yusuf Chudlori dan Wakil Ketua Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jateng Muhammad Adnan.

Di Jogja Jumat, 30 Mei 2014 juga dideklarasikan langsung oleh  Muhaimin Iskandar atau Cak Imin di Kantor DPC PKB Bantul. Ada 178 pondok pesantren (ponpes) lingkungan NU di DIY yang mewakili menurut  Agus Sulistiyono. Pembacaan Ikrar dan Kebulatan Tekad Laskar Santri Nusantara Korwil DIY oleh Subhan Nawawi. Kemudian melakukan konsolidasi dengan Ulama  se-Kabupaten Sleman, di Ponpes Arobitoh (pengasuh KH. Masngud Masduki), Krapyak, Widomartani, Sleman, Yogyakarta.

Di jawa Timur Deklarasi Laskar Santri Nusantara diresmikan Muhaimin Iskandar di Pondok Pesantren Luhur Al Husna di kawasan Jemur Wonosari, Surabaya, Kamis 29 Mei 2014. Pengasuh Ponpes Luhur Al Husna, KH Ali Maschan Moesa sangat mendukung deklarasi ini untuk menyatukan santri-santri se-nusantara. hadir dalam deklarasi KH Machfud Ma’sum, Jazil, Ketua MUI Gresik, unsur Muslimat NU serta Fatayat NU.

Kemudian dari perjalanan deklarasi Laskar Santri Nusantara pada momen pemilihan Capres dan Cawapres 2014, Laskar Santri Nusantara Berijtihad untuk mendukung calon pemimpin Nusantara ini yaitu pasangan Jokowidodo-Jusuf Kalla dan mengantar sampai ke gerbang pintu kemenangan sehingga ditetapkanya Jokowidodo dan Jusuf Kalla menjadi Presiden dan Wakil Presiden Indonesia Periode 2014-2019.

Karena melihat sejarah besar yang ditorehkan oleh Laskar Santri Nusantara, Maka di gagas dan dibentuklah Dewan Kepengurusan Nasional (DKN) Laskar Santri Nusantara yang memiliki tugas menyatukan seluruh elemen yang melakukan deklarasi-deklarasi Laskar santri yang kurang terkoordinir yang kemudian DKN LSN di Nahkodai oleh Andy Noer Rochman selaku ketua dan Didik Setiawan selaku sekjend DKN Laskar Santri Nusantara dan sebagai dewan Pembina adalah Bapak Marwan Jafar yang sedang menjabat sebagai menteri Desa serta Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi serta sahabat Ogy Sugiyono.

Periode kepemimpinan sahabat Andy Noer Rochman tidak berlangsung lama karena kesibukanya. Kepengurusan DKN Laskar Santri Nusantara, kemudian dilanjutkan oleh Sahabat Didik Setiawan. Dalam perjalanan kepemimpinan Didik Setiyawan ini Laskar Santri mulai berbenah secara administrasi baik ADART, Legalitas Organisasi serta melakukan proses Konsolidasi Nasional secara terus-menerus.

Tidak cukup sampai disitu, Laskar Santri Nusantara terus mengawal berjalannya Republik Indonesia ini dalam memperjuangkan Hari Santri Nusantara terus mendesak seperti yang dimuat dibeberapa media nasional yang kemudian dikabulkan oleh Presiden Republik Indonesia yang awalnya dijanjikan 1 Muharram, kemudian ditetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional yang diusulkan oleh Ketua Umum PBNU Kiyai Said Aqil Siradj dengan rasionalisasi sebagai momen Resolusi Jihad.

Perjalanan Laskar Santri Nusantara cukup serius dalam menanggapi isu-isu nasional seperti yang dilansir dibeberapa media massa misalkan media RMol, Tribun News, Berita satu dan banyak media lainya, Terkait adanya insiden pembakaran masjid di Karabuga, Tolikara, yang dinilai potensial dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk mendesak Pemerintah segera menginvestigasi insiden tersebut secara mendalam dan komprehensif. Ketua LSN Didik Setiawan menyerukan kepada Pemerintah sebaiknya mengumumkan hasil penyidikan ke publik. Hal ini dilakukan untuk menghindari berbagai spekulasi dan kecurigaan dari masyarakat yang dapat menimbulkan keresahan dan memicu hal-hal yang tidak diinginkan yang dapat terulang kembali kasus serupa di waktu mendatang, Didik Setiawan berharap Pemerintah Pusat hingga pemerintah daerah harus secara konkret menjamin kebebasan beragama. Termasuk soal mendirikan tempat ibadah di tanah Papua sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Diharapkan Pemprov dan Pemkab di Papua juga ikut serta secara aktif menjaga toleransi antar umat beragama di tanah Papua. Selain itu, pemerintah pusat harus mencabut peraturan daerah yang diskriminatif mengenai SARA, terutama agama di tanah Papua dan di seluruh wilayah NKRI yang dapat mengganggu keutuhan NKRI.

LSN juga mendesak aparat keamanan dan penegak hukum untuk segera menangkap pelaku dan aktor intelektual di balik insiden pembakaran Masjid dan diproses sesuai hukum yang berlaku, LSN juga menghimbau kepada warga Papua khususnya dan mayarakat Indonesia umumnya untuk tidak terpancing oleh berbagai isu serupa dan menyikapinya secara jernih sehingga insiden serupa tak terulang kembali.

Laskar Santri Nusantara juga Menyikapi Hukum Cambuk di Ponpes Urwatul Wustho dan menekankan agar media tidak lebay dan terlalu membesar-besarkan kasus tersebut, karena Laskar santri tidak ingin efek dari pemberitaan tersebut mengarah kepada antipasti masyarakat muslim Indonesia tidak mau Mondok Kepesantre-pesantren. Laskar Santri juga inten dalam mengawal Rencana Pembentukan Perda Ponpes Salafiyah di Provinsi Banten serta rutin dalam menjalin silaturahim ke kiyai-kiyai kampung.