Laskar Santri Nusantara mengajak Pencegahan Radikalisme pada Anak

Dewan Koordinasi Nasional (DKN) Laskar Santri Nusantara mengadakan Halaqoh Pencegahan anak dari gerakan radikal pada tanggal 29 Agustus 2017 di Puri Denpasar Hotel Jakarta, Jakarta selatan. Acara ini bekerjasama dengan Badan Penelitian pengembangan dan Pendidikan dan pelatihan (Balitbang dan Diklat) Kemenag RI
Dalam Halaqoh ini, Laskar Santri Nusantara mengundang sejumlah lembaga dan kementerian yang terkait dengan radikalisme pada anak, seperti Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komisi perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai narasumber.
dalam sambutannya, Dirjen Balitbang Kementerian Agama Prof. Dr. Abdurrahman Mas’ud menjelaskan bahwa fenomena Radikalisme ini terjadi bukan hanya di satu agama saja, akan tetapi di semua agama dan hanya keluarga tempat sekolah yang pertama yang bisa menangkalnya. “radikalisme merupakan persoalan semua kelompok masyarakat dan seluruh umat beragama. dan keluarga adalah tempat sekolah yang pertama” tegas beliau.
Dalam wawancaranya, Ketua Umum Laskar Santri Nusantara Didik Setiawan berharap semua elemen yang terlibat dalam halaqoh bisa menyamakan suara akan bahaya radikalisme pada anak “harapan kami Halaqoh ini mampu menghasilkan atmosfir persepsi Bersama diantara berbagai elemen tentang bahaya pemikiran dan gerakan radikal bagi anak-anak generasi penerus bangsa” ujar Didik.
Menurutnya penyelesaian radikalisme dan terorisme tidak bisa dilakukan kalau hanya pemerintah saja yang berperan, akan tetapi harus adanya saling gotong royong dan bahu membahu antara Pemerintah, ormas-ormas dan juga masyarakat dan menentukan rumusannya. “ kita harus ada rumusan tentang bagaimana gerakan pencegahan bisa dilakukan oleh semua pihak. Karena kita sadari Bersama bahwa masalah ini tidak bisa hanya diselesaikan oleh pemerintah ataupun lembaga hukum saja” pungkas Didik.
hal senada juga diungkapkan oleh Komisioner KPAI Susianah Affandy, menurutnya yang harus dilakukan untuk menangkal radikalisme adalah menambah kekuatan ketahanan keluarga, karena rata-rata pelaku radikalisme itu berasal dari keluarga yang kurang harmonis. ” yang harus dilakukan pada saat ini adalah penguatan ketahanan keluarga”. ungkap beliau.
dari ranah pendidikan, Kasubdit BK SMA kementerian pendidikan dan kebudayaan Suharlan sudah berupaya untuk mengisi kegiatan-kegiatan siswa dengan hal positif, hal itu merupakan wujud dari pencegahan paham Radikalisme yang menjadi tantangan bagi siswa-siswa SMA. “kami sudah mengatur Peraturan Menteri agar sesuai dengan semangat pencegahan radikalisme pada siswa di SMA” ungkap beliau.
Acara ini diikuti oleh bebrapa ormas-ormas Islam dan juga sekolah-sekolah yang ada di Jabodetabek, diantaranya adalah PBNU, PP Muhammadiyah, PP Muslimat NU, PP Aisyah, LKKNU, PP Fatayat NU, Kowani, Persit, Dharma Wanita, dan beberapa kepala sekolah.

Lainnya

KH. Hasyim Muzadi dan Sepak Terjangnya

Telah Dibaca: 137 Hasyim Muzadi mempunyai nama lengkap KH. Achmad Hasyim Muzadi, ulama fundamental yang ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *