Syaikh Baqir bin Muhammad Nur al-Jukjawi Ulama Nusantara dari Yogyakarta

Yogyakarta terkenal dengan kota yang mempunyai banyak budaya. Melalui budaya, Islam dapat berkembang di daerah Yogyakarta dan sekitarnya, budaya yang sudah diasimilasi dengan ajaran ajaran agama Islam maupun yang belum. Agama Islam yang masuk di Yogyakarta tidak bisa lepas dari jasa-jasa para Walisanga dan jasa para raja-raja Islam yang berkuasa di pulau Jawa seperti dimulai dari Kasultanan Demak, Kasultanan Pajang dan Kasultanan Mataram Islam. Berkembangnya Islam di Yogyakarta telah melahirkan beberapa ulama dan tokoh diantaraya adalah Syeikh Baqir al-Jukjawi.

Syaikh Baqir al-Jukjawi lahir pada tahun 1306 H/ 1888 M, kelahiran beliau bebarengan dengan pemberontakan Cilegon . Ayah Syaikh Baqir al-Jukjawi adalah Kiai Muhammad Nur beliau adalah seorang Ulama yang disegani didaerah Lempuyangan Yogyakaarta, Kiai Muhammad Nur merupakan guru dari Kiai Ahmad Dahlan. Dari Ayahnya ini Syaikh Baqir al-Jukjawi mendapatkan pendidikan Agama secara langsung. Selain itu juga Syaikh Baqir al-Jukjawi belajar agama dengan Kiai Abdul Hamid Lempuyangan. Syaikh Baqir al-Jukjawi mempunyai kelebihan dalam belajar ilmu agama Islam, sehingga ayahnya yaitu Kiai Muhammad Nur memerintah anaknya untuk belajar ke negeri Hijaz, dengan harapan semoga nantinya Syaikh Baqir al-Jukjawi bisa melanjutkan perjuangan ayahnya dalam menyebarkan ajaran agama Islam.

Syaikh Baqir al-Jukjawi bergabung dengan santri-santri asal Nusantara yang ada di Kampung al-Jawi saat berada di Hijaz, disini Syaikh Baqir al-Jukjawi bertemu dengan santri-santri asal Jawa seperti KH. Hasyim Asy’ari, Kiai Ahmad Dahlan, Kiai Raden Asnawi Kudus dan Kiai Faqih Maskumambang. Syaikh Baqir al-Jukjawi belajar dengan ulama-ulama Nusantara yang telah mengajar di Masjidil Haram seperti Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabau dan guru favoritnya dalam ilmu Hadist yaitu Syaikh Mahfudz al-Termasi. Selain belajar kepada ulama Nusantara, Syaikh Baqir al-Jukjawi juga belajar kepada ulama-ulama Haramain lainnya seperti Syaikh Husain bin Muhammad al-Habsy, Sayyid Muhammad bin Salim as-Sirri, Sayyid Abdul Hayyi al-Kattani, Syaikh Yusuf an-Nabhani, Syaikh Muhammad Amin Ridman al-Madani, Syaikh Abu Syaib ash-Shodiqi, Syaikh Abdul Karim Dangestani dan lain-lain.

Syaikh Baqir al-Jukjawi belajar dengan penuh ketekunan dan kesungguhan, Syaikh Baqir al-Jukjawi mempelajari apa yang telah di ajarkan oleh ulama-ulama Haramain, sehingga Syaikh Baqir al-Jukjawi menjadi salah satu santri yang menonjol dari kalangan al-Jawi. Dengan kecerdasan dan Prestasi yang dimilikinya, maka Syaikh Baqir al-Jukjawi ditunjuk menjadi salah satu pengajar yang mengajar di Masjidil Haram. Syaikh Baqir al-Jukjawi selain mengajar di Masjidil Haram juga mengajar dikediamannya dan di kampung al-Jawi. Kampung al-Jawi merupakan basis santri Nusantara yang sedang belajar di Hijaz. Santri Nusantara yang juga belajar kepada Syaikh Baqir al-Jukjawi diantara seperti Kiai Zubair Dahlan, Syekh Yasin bin Isa al-Fadani dan Kiai Mahfudz bin Abdussalam (Abah Kiai Sahal Mahfudz Pati).

Syaikh Baqir al-Jukjawi mencurahkan tenaga dan fikirannya untuk mengajar apalagi setelah Syaikh Baqir al-Jukjawi ditunjuk menjadi salah seorang pengajar di Masjidil Haram. Karena kecintaannya dalam nasyrul ilmi maka dalam keadaan Syaikh Baqir al-Jukjawi yang sudah tua dan sakit beliau masih tetap mengajar, walapun pengajian diselengarakan dikediamannya, rutinitas Syaikh Baqir al-Jukjawi ini dijalankan sampai beliau meninggal. Syaikh Baqir al-Jukjawi meninggal pada 1363 H/1943 M.

Mirza Faishol
Pengurus DKN LSN

Lainnya

Pesan Habib Yahya Assegaf Kepada Laskar Santri Nusantara

Telah Dibaca: 597 Pengurus DKN Laskar Santri Nusantara bershilaturrahim dan meminta nasehat kepada para Ulama ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *