KH. Hasyim Muzadi dan Sepak Terjangnya

Hasyim Muzadi mempunyai nama lengkap KH. Achmad Hasyim Muzadi, ulama fundamental yang lahir di Tuban tujuh puluh tiga tahun yang lalu, bertepatan pada tanggal 8 Agustus 1944 dari Rahim ibunda yang bernama Hj. Muthmainnah dan ayahanda H. Muzadi. Sejak kecil beliau mendapatkan pendidikan yang mendalam untuk hal agama, ia memulai sekolahnya di sebuah Madrasah Ibtidaiyah di Tuban, nyantri di Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo kemudian melanjutkan pendidikannya ke sebuah Institut Agama Islam Negeri di Malang.

Selama mengenyam pendidikan agamanya, ia tidak hanya fokus pada bangku sekolah saja, akan tetapi selalu aktif dalam berorganisasi yang bernafas NU. Mulai dari Gerakan Pemuda Ansor, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), sehingga mengantarkannya menjadi Ketua Pengurus Wilayah NU (PWNU) Jawa Timur, dan menjadi ketua PBNU, kemudian berlanjut sebagai anggota DPRD Tingkat I di Jawa Timur.

Hasyim Muzadi juga pernah mencalonkan sebagai Wakil Presiden mendampingi Megawati Soekarnoputri pada tahun 2004, akan tetapi gagal mendapatkan kemenangan. Lepas itu ia terpilih menjadi Ketua Umum PBNU pada muktamar ke-31, tak lepas begitu saja perjalanannya dalam organisasi, pada muktamar ke-32 beliau berhasil terpilih menjadi wakil Rais Aam PBNU, bersama Dr. KH. Ahmad Mustofa Bisri dengan Ketua Rais Aam Dr. KH. Sahal Mahfudh.

Setelah gagal menjadi calon presiden, Kyai Hasyim tidak hanya memperhatikan organisasinya saja, ketika ia menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden, beliau terpilih menjadi utusan Konferensi Dunia Agama untuk Perdamaian yang berlangsung di Jepang. Hal ini bertujuan untuk menghentikan perang, mengurangi angka kemiskinan, dan melindungi bumi. Dalam kesempatan inilah beliau mengambil peran untuk komunikasi dengan Negara Luar, termasuk Amerika Serikat dan menjelaskan bahwa Islam di Indonesia itu bersifat kultural, dan tidak kenal jaringan kekerasan Internasional.

Begitu besar perhatiannya kepada Nahdliyin dan umat Islam di Indonesia, akan tetapi pada hari Kamis tanggal 16 Maret 2017, Kiyai yang melegenda di hati umat muslim ini menutup usia akibat sakit yang beliau derita. Telah banyak ulama mempunyai peran penting untuk masyarakat dan umat Islam wafat meninggalkan kita, sebagai santri yang bisa belajar dan mengetahui perjuangan mereka untuk agama, sudah seharusnya kita mengamalkan ilmu dan peran ulama selama mereka masih hidup agar perjuangan tidak sia-sia.

 

Badi’ Nurfiana

Pengurus DKN LSN dan alumni Pon Pes Al-Islam Ponorogo

 

Lainnya

Hari Perempuan Internasional

Telah Dibaca: 100 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, perempuan memiliki arti orang yang dapat menstruasi, ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *