Kecerdasan Kiai Abul Fadhol Senori  yang Tidak Pernah Nyantri di Timur Tengah

foto Mbah Fadhol ..Kiai Abul Fadhol, yang lebih dikenal dengan Mbah Fadhol Senori Tuban merupakan sosok kiai yang dikagumi kealimannya oleh ulama Nusantara bahkan sampai di Timur Tengah. Kiai Abul Fadhol  lahir di Sedan Kabuaten Rembang Jawa Tegah pada tahun 1921 M. Kiai Abul Fadhol merpakan putra dari Kiai Abdusy Syakur dari istri keduanya yaitu Nyai Sumiah binti Ibrahim. Kiai Abul Fadhol dilahirkan di lingkunagan yang menjunjung tinggi nilai-nilai ajaran agama Islam. Tempat Kiai Abul Fadhol lahir yaitu Sedan dikenal sebagai kota santri yang melahirkan banyak ulama Nusantara.

Faktor kealiman Kiai Abul Fadhol selain dipengarui oleh faktor lingkungan, faktor kealiman ayah Kiai Abul Fadhol juga sangat mempengaruhi. Ayah Kiai Abul Fadhol merupakan Ulama yang terkemuka, ayahnya pernah belajar kepada Syaikh Kafrawi Tuban,  setelah itu melanjutkan rihlah ilmiahnya ke Haramain, di Haramain Kiai Abdusy Syakur berguru kepada beberapa Ulama Haramian yang sangat terkemuka diantaranya Syaikh Nawawi al-Bantani, Syekh Abu Bakar Syatha, Syekh Zaini Dahlan, Syaikh Mukri dan beberapa ulama yang lain, selaian itu juga ayahna juga pernah belajar dengan Kiai Sholeh Darat Semarang.

Pendidikan yang diterapkan Kiai Abdusy Syakur kepada puteranya mempengaruhi dalam proses belajar, Kiai Abdusy Syakur sangat ketat sekali dalam memantau Kiai Abul Fadhol  atau puteranya dalam belajar agama, sehinga Kiai Abul Fadhol lebih cepat dalam memahami berbagai disiplin ilmu dan cepat dalam menghafal. Kiai Abdusy Syakur menerapkan metode hafalan serta menulis kitab atau memberi makna pada kitab kepada puteranya begitu juga santri- santrinya. Kiai Abul Fadhol memulai belajar agama sejak kecil, gemblengan dari ayahnya sudah dimulai sejak kecil dengan cara mengahafal beberapa kitab diantaranya Aqidatul al-Awwam, Nadzam Ibnu ‘Imad, Tarsyikh, Maqshud, al-Imrithi, al-Fiyah Ibn Malik, al-Jurumiyah, Jauharul al-Maknun, Uqudu al-Juman dan Nadzam Jam’u al-Jwami’.

Kiai Abul Fadhol sagat cerdas sekali, hal ini diakui oleh Kiai Abdul Khoir yang merupakan saudara Kiai Abul Fadhol, bahkan Kiai Abdul Khoir mengaku kalah dengan adiknya dalam hal hafalan. Dalam proses belajar kepada ayahnya, Kiai Abul Fadhol mampu menguasai berbagai disipln ilmu seperti Sharaf, Nahwu, Balangah, Manthik, Muqawwalat, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits, Arudh dan Khofiyah. Kiai Abul Fadhol terkenal nakal pada waktu kecil, namun dibalik itu tersimpan daya intelektual yang sanagat luar biasa. Diceritakan suatu ketika Ayahnya sedang mengajar, Kiai Abul Fadhol sering mendengarkan atau menguping, melihat tindakan tersebut, ayahnya Kiai Abdusy Syakur pernah memerintahnya untuk membacakan kitab yang diajarkan. Anehnya, Kiai Abul Fadhol mampu menjelaskan sama persisi apa yang dijelaskan ayahnya.

Kiai Abul Fadhol mempunyai bekal ilmu Gramatika Arab sehingga  mampu menguasai kitab turast atau kitab kunin, hal ini dapat dilihat ketika Kiai Abul Fadhol mengkhatamkan kiatab al-Jurumiyyaah beliau dapat membaca kitab Taqrib dan Fathul Mu’in, ketika khatam Kafrawi beliau mampu membaca kitab Fathul Wahab, beliau khatam kitab al-Fiyah Ibn Malik   pada usia 11 tahun,  dan pada usia tersebut Kiai Abul Fadhol sudah mengajar dan mampu mengarang kitab. Kiai Abul Fadhol juga hafal al-Qur’an, hal ini dikarenakan bahwa ketika Kiai Abul Fadhol menguasai berbagai disiplin ilmu kalau tidak diperkuat dengan menghafal sumber induk Islam rasanya kurang lengkap, maka Kiai Abul Fadhol menghafal al Qur’an. Proses hafal al-Qur’an Kiai Abul Fadhol  dilakukan selama tiga bulan. setelah hafal, Kiai Abul Fadhol belum merasa puas ketika hafalannya belum masuk sanubari dan menyatu dalam jiwa. Maka diulang-ulanag ayat perayat sembari memahami makna yang terkandung didalamnya.

Semangat Kiai Abul Fadhol dalam menuntut ilmu selalu menggebu-gebu. Setelah kepergian Ayahnya, Kiai Abul Fadhol meneruskan rihlah ilmiahnya ke Pondok Pesantren Tebuireng yang diasuh oleh Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Abul Fadhol diterima dengan gembira oleh pengasuhnya,  Kiai Hasyim Asy’ari menganggap Kiai Abul Fadhol sudah menguasai ilmunya dengan baik, sehingga Kiai Abul Fadhol layak menerima ijazah periwayatan Hadits seperti Shahih Bukhari dan Muslim yang diriwayatkan Kiai Hasyim Asy’ari dari Syekh Mahfudz at-Termasi (Termas). Kiai Abul Fadhol sering menuangkan idenya dalam sebuah tulisan-tulisan yang dikaji diberbagai Pesantren hingga luar negeri seperti kitab Kawakibu al-Lamma’ah dan al Durru al-Farid fi Syarh al-Jauharatu al-Tauhid. Kiai Abul Fadhol nyantri di Pondok Pesantren Tebuireng selama sekitar satu tahun. Kiai Abul Fadhol juga menguasai Bahasa Belanda secara Otodidak, hal ini karena kebiasaannya sering bermain di markas Belanda ketika rumahnya pindah dari Rembang meuju Swidang, Tuban Jawa Timur.

 

Mirza Faishol

Pengurus DKN Laskar Santri Nusantara

Lainnya

Pesan Habib Yahya Assegaf Kepada Laskar Santri Nusantara

Telah Dibaca: 606 Pengurus DKN Laskar Santri Nusantara bershilaturrahim dan meminta nasehat kepada para Ulama ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *