Dua Ulama Simbol Silsilah Intelektual Pesantren dan Jaringan Pondok Pesantren

Kyai Kholil Bangkalan, lahir 11 Jumadil Ahir 1235/ 27 januari 1820 di Bangkalan Madura, beliau dari kalangan keluarga ulama, ayahnya Kiai Abdul Latif adalah ulama terkemuka. Kyai Kholil Bangkalan memulai belajar di pesantren-pesantren yang ada di Jawa di antaranya Pesantren Bunga Gresik (pimpinan Kiai Sholeh), Pesantren Langitan Widan Tuban (Kiai Muhammad Nur), Pesantren Sidogiri Pasuruan (Kiai Nur Hasan), selanjutnya  Kyai Kholil Bangkalan belajar ke Makkah. (Zainul, 2016: 438). Di Makkah Kyai Kholil Bangkalan bertemu dengan Komunitas Jawi, di Komunitas Jawi ini ada beberapa yang menjadi guru dan ada menjadi  teman-temannya, di antaranya adalah Syekh Nawawi al-Banteni, Syekh Abdul Karim, Syekh Abdul Qodir bin Mustofa al-Fatani, Syekh Ahmad Khatib Sambas, Syekh Ali Rahbini, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan dan  Syekh Abdul Ghani bin Subbah Bin Ismail Al Bimawi.

Setelah belajar di Makkah Kyai Kholil Bangkalan memutuskan untuk kembali ke Bangkalan Madura untuk mengamalkan ilmu dan mengajar disana. Karier Kyai Kholil Bangkalan sangat tampak ketika Kyai Kholil Bangkalan memberi perhatian yang sangat besar pada Fiqih dan Sufiisme, menggabungkan tradisi intelektual guru gurunya: tradisi Sufisme Nawawi al-Banteni dan Abdul Karim dengan tradisi Fiqih Mahfudz Termas (Dhofir, 1982: 92). Kyai Kholil Bangkalan telah mendidik ulama-ulama dari titik titik utama di Jawa dari ujung kulon Jawa Barat sampai daerah tapal kuda Jawa Timur. Diantara murid-murid Kyai Kholil Bangkalan  yang sangat menonjol adalah KH. Hasyim Asy’ari, KH. Abdul Wahab Hasbulloh, KH. Bisyri Syamsuri, KH. Ma’shum Rembang, KH. Bishri Mustofa Rembang, KH. R. Syamsul Arifin, KH. R. As,ad Syamsul Arifin Situbondo, KH. Abdul Karim Lirboyo Kediri, KH. Munawwir Krapyak, KH. Muhammad Siddiq Jember, Ir. Soekarno, KH. Muhammad Hasan Gengong, KH. Romli Tamim Rejoso Jombang, KH. Hasan Mustofa Garut Dan  Sayyid Ali Bafaqih (Zainul, 2016: 438).

Dalam perkembangannya murid-murid Kyai Kholil Bangkalan yang selesai belajat atau nyantri kepada Kyai Kholil Bangkalan lalu membangun Pondok Pesantren di derahnya masing masing dengan cara yang berbeda-beda. Kyai Kholil Bangkalan tidak hanya di akui sebagai simbol utama dalam silsilah intelektual pesantren tetapi Kyai Kholil Bangkalan telah meletakkan landasan yang kuat dalam terbentuknya jejaring dan solidaritas ulama yang terbangun dan terorganisir dengan baik terutama di jawa (Dhofir 1982; 91). Dan salah satu teman seperjuangannya adalah Kiai Abdul Jamil bin Kiai Mutaad dari Cirebon Jawa barat dan Kiai Asnawi Kudus Jawa Tengah.

KH. Hasyim Asy’ari, Lahir di Jombang Selasa Kliwon 24 Dzulqoidah/ 14 Februari 1871. KH. Hasyim Asy’ari adalah anak ketiga dari sepuluh bersaudara. Dibesarkan dan tumbuh dari keluarga kyai, ayahnya KH. Asyari pendiri Pesantren Keras sedangkan kakeknya KH. Utsman pengasuh pesantren Nggedang masih wilayah Jombang (Herry 2006: 21). KH. Hasyim Asy’ari memulai belajar dengan ayahnya yaitu Kyai Asy’ari, setelah itu beliau melanjutkan nyantri di Wonokoyo Probolingo, Pesantren Langitan Tuban, Pesantren Kademangan Bangkalan, Nganjuk, Kyai Hazim Siwalan Panji Sidoarjo dan Kyai Ya’kub Surabaya. KH. Hasyim Asy’ari juga belajar dengan KH. Kholil Bangkalan Madura. Setelah itu KH. Hasyim Asy’ari ke Mekkah dan berguru kepada Syekh Nawawi al-Banteni, Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, Syekh Mahfudz Termas, Syekh Mahfudz Termas adalah gurunya yang paling penting yang menjadi sumber utama pembentukan pengetahuan keislamannya (Burhanudin 2012: 325). KH. Hasyim Asy’ari juga berguru dengan guru non Jawi seperti Syekh Abu Bakar Syatta, Syekh Ahmad Amin al-Atthar, Sayyid Sulthan Ibnu Hasyim dan lain lain.

KH Hasyim Asyarai muncul sebagai ulama yang paling di ta’dzimi di Indonesia awal abad ke 20, ulama Jawa dan Madura sangat menghormatinya, hingga memberinya gelar Hadratu as-Syaikh (Burhanudin, 2012: 327). Setelah beberapa tahun KH. Hasyim Asy’ari mendirikan pesantren di Tebuireng yaitu pada tahun 1899, dan menjadi seorang Ulama mengikuti jejak gurunya yaitu Kyai Shaleh Darat dan KH. Kholil Bangkalan (Dhofir 1982: 103). KH. Hasyim Asy’ari mewakili kepemimpinan ulama yang di idealkan pada saat itu, KH. Hasyim Asy’ari hidup dimasa ketika ulama dan muslim Indonesia menghadapi perubahan sosial budaya akibat modernisasi Belanda. Salah satu muridanya yaitu KH. Wahab Hasbulloh yang paling aktif dalam kegiatan sosial keagamaan yang berhubungan erat dengan muslim reformis di Surabaya. Selain itu juga ia bersentuhan langsung dengan bakal ulama terkemuka yang mendukungnya memimpin kebangkiatan komunitas ulama di Indonesia yaitu Nahdhotul Ulama seperti  Kyai Bisri Syamsuri, Kyai Abdul Karim Lirboyo, Kyia Abbas Buntet, dan Kyai R. As’ad Syamsul Arifin Situbondo. Diantara murid-murid Kyai Hasyim Asy’ari adalah Kyai Manaf Abdul Karim Lirboyo, Kyai Jazuli Ploso, Kyai Zuber Salatiga, KH. Wahid  Hasyim, KH. Achmad Shidiq, KH. Dahlan Kudus dan masih banyak Kiai Kiai yang lain.

Dari kedua ulama ini yaitu KH. Kholil Bangkalan dan KH. Hasyim Asy’ari munculah ulama-ulama Nusantara. Munculnya ulama-ulama Nusantara lewat berbagai cara, diantaranya adalah adanya silsilah intelektual atau mempunyai Sanad keilmuan dari keduanya. Sanad Keilmuan menjadi hal yang sangat penting dalam tradisi Pesantren. Sanad keilmuan inilah yang menjadi bekal bagi para santri dalam mengamalkan ilmunya dan menjadi bukti bahwa santri tersebut telah belajar kitab-kitab kepada guru-guru yang jelas dan dapat dipertanggung jawabkan,.Sanad keilmuan ini menjadi salah satu khazanah keilmuan Islam Nusantara.  Selanjutnya, munculah ulama-ulama terkemuka atau masyhur di Nusantara atau Indonesia, mereka boleh dikatakan seangkatan dengan KH. Hasyim Asya’ari dan KH. Kholil Bangkalan dan juga pernah belajar dengan keduanya. Lewat Pondok Pesantren, keduannya mempunyai banyak santri, setelah belajar lama di Pondok Pesantren dan menguasai berbagai disiplin ilmu agama maka santri yang telah selesai belajar atau nyantri mulai kehidupan baru setelah lama menutut ilmu di Pesantren.  Para santri tersebut mulai berjuang di daerahnya masing-masing dan mulai mendirikan Pondok Pesantren.

Jaringan pondok pesantren ini muncul dari beberapa aspek diantaranya adalah hubungan Sanad atau hungunagn antara Guru dan Murid, hubungan keluarga baik dari keturunan kyai atau ulama maupun dengan jalur pernikahan yaitu antara anak Kyai dan juga pernikahan putri seorang kyai dengan santrinya yang mumpuni dan telah menguasai ilmu agama, selain itu, juga lewat hubungan keilmuan Thoriqoh atau Tasawuf dan keilmuan yang lainnya. Dari aspek-asapek tersebut munculah pesantren-pesantren baru, sehingga Pondok Pesantren menjadi pusata-pusat kajian dan menciptakan kader-kader ulama yang selalu berkoneksi dengan daerah-daerah lain. Mulai abad ke 19 dan 20 di Jawa ada 40 Pondok Pesantren sebagai pusat Pesantren di Jawa, seperti yang telah di gambarkan Dhofier dalam bukunya Tradisi Pesantren (Dhofier 1982: 3).

Mirza Faishol

Pengurus Laskar Santri Nusantara

Lainnya

Ulama Dari Bogor Yang Menjadi Guru Besar Di Masjidil Haram

Telah Dibaca: 1.021 Islamisasi di daerah Jawa Barat dimulai pada Abd 15 M, dalam perkembanganya ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *