Syekh Nawawi al-Jawi al-Bantani, Ulama Nusantara Abad 19

Muhammad an-Nawawi al-Bantani, Nama lengkapnya adalah Abu Abdul Mu’ti Muhammad bin Umar bin Arbi bin Ali al-Tanara al-Jawi al-Bantani. Beliau  lebih dikenal dengan sebutan Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani. Dilahirkan di Kampung Tanara, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Provinsi Banten Pada tahun 1813 M atau 1230 H. Ayahnya bernama Kyai Umar, seorang pejabat penghulu Kecamatan di Tanara dan juga memimpin masjid (Dhofier, 1982: 87).

Dari silsilahnya, Nawawi merupakan keturunan kesultanan yang ke 12 dari Maulana Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati, Cirebon), yaitu keturunan dari Putra Maulana Hasanuddin (Sultan Banten I) yang bernama Sunyara-ras (Tajul ‘Arsy). Nasabnya bersambung dengan Nabi Muhammad SAW melalui Imam Ja’far Assidiq, Imam Muhammad Al-Baqir, Imam Ali Zainal Abidin, Sayyidina Husain, Fatimah Al-Zahra (Zainul, 2016: 452). Dari keluarga yang agamis ini maka keluarga Syaikh Nawawi mengutamakan pengajaran ilmu agama, pendidikan agama Islam selalu dikedepankan bila dibanding dengan yang lainnya. Ayahnya yaitu Kiai Umar selalu melestarikan ajaran yang dibawa oleh Sunan Gunung Jati dalam mendidik putra-putrinya dan Syaikh Nawawi ini salah satunya. (Amirul, 2015:41).

Beliau memulai pendidikan pada masa kecil dengan orang tuanya, setelah beberapa tahun sampai umur delapan tahun, Syekh Nawawi mulai belajar keluar daerah seperti dikisahkan Syaikh Nawawi belajar ke dareah Jawa Timur dan Jawa Barat, setelah itu Syaikh Nawawi pulang untuk membantu ayahnya mengasuh pondok pesantren. Syaikh Nawawi mempunyai kesempatan untuk pergi ke Makkah dan Madinah untuk beribadah haji dan sekaigus belajar ilmu Fiqih, Kalam, Bahasa Arab  dan disiplin ilmu yang lain selama tiga tahun setelah itu Syaikh Nawawi kembali ketanah air, setelah beberapa waktu di tanah air, Syaikh Nawawi  kembali lagi belajar ke Makkah. Diantara guru-guru Syaikh Nawawi adalah Syekh Khatib Sambas (Penyatu Thariqat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah di Indonesia) dan Syekh Abdul Gani Bima Ulama asal Indonesia yang bermukim di sana. Setelah itu Syaikh Nawawi juga belajar kepada Sayyid Ahmad Dimyati, Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, Syekh Junaid al Batawi, Syekh Mahmud bin Kinan al Falembani, Syekh Zainuddin Aceh, Syekh Yusuf bin Arsyad al Banjari, Syehah Fatimah binti Abdusshomad al Falimbani. Sedang pada saat Syaikh Nawawi di Madinah, ia belajar kepada Syekh Muhammad Khatib al-Hambali. Kemudian pada tahun 1860 M Syaikh Nawawi mulai mengajar di lingkungan Masjid al-Haram.

Syekh Nawawi cukup sukses dalam mengajar murid-muridnya, sehingga anak didiknya banyak yang menjadi ulama kenamaan dan tokoh-tokoh Nasional Islam di  Indonesia, diantaranya adalah Syekh Kholil Bangkalan Madura, KH. Hasyim Asy’ari dari Tebuireng Jombang (Pendiri Organisasi NU), KH. Asy’ari dari Bawean, KH. Tubagus Muhammad Asnawi dari Caringin Labuan Pandeglang Banten, KH. Tubagus Bakri dari Sempur Purwakarta, KH. Abdul Karim dari Banten, Syekh Ahhmad bin Muhammad Zain al Fattani, KH. R. Asnawi dari Kudus, KH. Mas Abdurrohman Menes, Syekh Muhammmad Zainuddin bin Badawi as-Sumbawi, KH. Ahmad Dahlan Yogyakarta dan Kiai Dahlan Termas. Syaikh Nawawi bukan ulama biasa, Syaikh Nawawi sangat produktif menulis kitab, meliputi Fiqih, Tauhid, Tasawwuf, Tafsir, dan Hadits. Jumlahnya tidak kurang dari 200-an kitab.

 

Mirza Faishol

Pengurus DKN Laskar Santri Nusantara

Lainnya

Ulama Dari Bogor Yang Menjadi Guru Besar Di Masjidil Haram

Telah Dibaca: 1.015 Islamisasi di daerah Jawa Barat dimulai pada Abd 15 M, dalam perkembanganya ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *