Poros Jaringan Ulama Nusantara abad 17

Jaringan ulama yang terbangun antara Nusantara dan Timur Tengah telah melahirkan beberapa Ulama Nusantara yang mempunyai corak keilmuan yang berbeda-beda. Keilmuan mereka dipengaruhi oleh guru-guru dan pendidikan di Timur Tengah. Di antara jaringan ulama Nusantara abad 17 M di wilayah Melayu –Indionesia dan menjadi salah satu poros jaringan ulama Nusantara adalah Nur al-din al-Raniri, Abd al-Rauf al-Sinkili dan Muhammad Yusuf al-Maqossari.

Ar-raniri, nama lengkapnya adalah Nur al-Din Muhammad bin Ali bin Hasanji bin Muhammad Ar Raniri, beliau dinamakan ar-Raniri karena lahir di daerah Ranir deket Gujarat India (Darmawijaya, 2010:50). Sebelum kemunculannya di Aceh sudah ada beberapa ulama yang berpengaruh di kerajaan Aceh yaitu Hamzah al-Fansuri dan Syams al-Din as-Sumaterani, keduanya termasuk dalam aliran keagamaan yang sama. Al-Raniri di lahirkan di Ranir sebuah kota pelabuhan tua di pantai Gujarat menjelang akhir abad ke 16 M. Dalam pendidikannya, al-Raniri menghabiskan waktunya di Timur Tengah dan di Haramain. Di antara gurunya yang terkenal adalah Ahmad al Qusyasyi (wafat 1071/ 1661), Umar bin Abdullah al Bashri (wafat 1037/1628) dan Abu Hafs Umar bin Abdullah Ba Syayban Tarimi al Hadhrami (wafat 1066/1656) atau juga di kenal sebagai Sayyid Umar al-Aydarus. Al-Raniri mempunyai silsilah tarekat, di antaranya tarekat Rifaiyah, Aydarusiyah dan Qadariyah (Azra, 2013: 214). Karirnya di Nusantara dimulai dari kerajaan Aceh, setelah al-Raniri mendapat pijakan kuat dari istana atau Sultan Aceh, al-Raniri mulai melancarkan pembaharuan Islam di Aceh. Al-Raniri hidup tujuh tahun di Aceh sebagai alim Mufti dan Penulis produktif untuk menentang faham Wujudiyah. Peranan al-Raniri relatif sebentar di dalam perkembangan Islam di Nusantara. Al-Raniri merupakan mata rantai yang paling kuat menghubungkan tradisi Islam di Timur tengah dengan tradisi Islam di Nusantara. Murid yang paling menonjol adalah al Maqossari.

Abd al-Rauf al-Sinkili, nama lengkapnya Abdul Rouf bin Ali al-Jawi al-Fansuri as-Sinkili, al-Sinkili adalah seorang Melayu dari Fansur, Sinkil (modern : singkel) di wilayah pantai Barat Laut Aceh, tahun kelahirannya tidak diketahui, tetapi Rinkes setelah mengadakan kalkulasi kebelakang saat kembalinya dari Timur Tengah ke Aceh menyarankan bahwa dia lahir sekitar 1615. (Azra, 2013: 239). Al-Sinkili mulai belajar di desanya sendiri, setelah itu mulai belajar di sejumlah tempat yang tersebar sepanjang rute haji dari Dhuha (Doha), di wilayah Teluk Persia, Yaman, Jeddah dan berakhir di Mekkah dan Madinah. Diantara guru-gurunya adalah Abdul Qodir al-Mawwir (Qatar), Ibrahim bin Muhamaad bin Jaman (Yaman), Syekh Ahmad al-Qusyasyi, Ibrahim al-Kurani, Ali al-Thabari (w 1070/1660). Al-Sinkili juga mengajar di Haramayn, hal itu juga dilakukan setelah ia kembali mengajar di Aceh, di antara murid-muridnya yang terkenal adalah Burhan al-Din yang lebih dikenal dengan Tuanku Ulakan dari Minangkabau Sumatera Barat, Abdul Muhyi dari Jawa Barat, Abdul Malik bin Abdulloh atau lebih dikenal dengan Tok Kulo Manis dan Dawud al-Jawi al-Fansuri (Turki). Dari beberapa muridnya, ada yang mengembangkan Thoriqoh Syatariyyah, diantaranya adalah Syeikh Burhanudin Ulakkan (wafat 1111/1691), Thoriqoh ini tersebar dari Aceh, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, sampai ke Cirebon dan semua itu ditemukan bahwa ada persambungan silsilah sampai dengan Syaik Abdurrouf As Sinkili. (Abdulloh, 1980: 52).

Muhammad Yusuf al-Maqossari, juga di kenal sebagai Tuanta Salamaka ri Gowa (guru kami yang agung dari Gowa), meneurut sejarah Gowa, beliau dilahirkan pada 1036/1627 (Azra, 2013: 271). Sebelum keberangkatannya ke Arab, al-Maqossari belajar ilmu al-Quran kepada Daeng ri Tasammang. Fikih, Bahasa Arab, Tauhid dan Tasawuf kepada Sayyid ba Alawi bin Abdulloh al-‘Allamah bin Thahir. setelah belajar dengan beberapa guru dan mendapat dorongan dari beberapa gurunya, al-Maqossari belajar ke Timur Tengah. Al-Maqossari meninggalkan Makasar menuju Arab pada tahun 1644 M. Al-Maqossari memanfaatkan jaringan perdagangan Internasional dan sampai di Banten pada masa kerajaan Abu al-Mafakhir Abd al Qodir (1626-1651). Banten merupakan kerajaan paling penting di Jawa, pada saat itu Banten telah menjalin hubungan dengan Raja Syarif Makkah. Raja Banten mengirim pertanyaan-pertanyaan keagamaan bukan hanya kepada ar-Raniri dan Ulama Nusantara yang lain, tetapi juga kepada ulama Haramayn. Dan ulama Haramayn menulis karya-karya khusus untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dan sangat mungkin al-Maqassari belajar di Banten dan memberi pengaruh kepada kerajaan Banten. Setelah itu, al-Maqassari berangkat ke Aceh dan mengikuti ar-Raniri ke India. Guru-guru al-Maqassari adalah Muhammad bin Abd al-Baqi al-Naqsyabandi dan beliau termasuk ulama yang di hubungi as-Singkili di yaman, Sayyid Ali al-Zabidi seorang Muhaddits Yaman (Azra, 2013: 276). Setelah itu al-Maqassari juga belajar di Haramayn yang mana bersamaan dengan masa studi al-Sinkili. Al-Maqassari juga belajar dengan gurunya al-Sinkili, diantaranya adalah Ahmad Qusyasyi, Ibrahim al Kurani dan Hasan al Ajami (Azra 2013; 277). Salah satu muridnya di Makkah adalah Abdul Basyir al-Dhofir dari Rappang Sulawesi Selatan. Setelah itu al Maqassari Kembali ke Nusantara yaitu di Banten, di Banten al-Maqossari menikah dengan putri Sultan Ageng Tirtayasa. Al-Maqassari sangat berpengaruh di Banten, beliau menjadi anggota penasehat Sultan yang paling berpengaruh. Pada saat di Banten al-Maqossari mengutus muridnya Abdul al Basyir al-Dhofir untuk pergi ke Gowa sebagai kholifah dari tarekat Khalwatiyah dan Naqsabandiyah.

Ketika al-Maqassari terlibat dalam peperangan melawan Belanda, dia mundur ke Desa Karang dan menjalin hubungan dengan Hadjee Karang, Karang adalah tempat tinggal Abd al-Muhyi murid al-Sinkili. Di sana Abdul Muhyi belajar dengan al-Maqassari dan meminta memberikan sanad-sanad Thoriqoh yang di terimanya di haramayn. (Azra 2013: 287). Setelah itu Al Maqassari diasingkan Belanda ke Sri langka hampir satu dasawarsa di sana al-Maqassari menulis banyak karya-karya dan berjumpa dengan ulama-ulama Nusantara bahkan luar Nusantara, pada 1106/1693 M Belanda mengasingkan al-Maqassari ketempat yang lebih jauh, yaitu ke Afrika Selatan, di sana dia meninggal pada 22 mei 1699 (Azra, 2013: 298). Dari ketiga ulama tersebut jaringan ulama Nusantara berkembang di Timur tengah pada abad ke 17. Atas jasa ketiga orang tersebut Islam di Nusantara dapat berkembang dan dapat dikatakan bahwa perkembangan Islam di Nusantara sangat berpengaruh dengan perkembangan Islam di Timur tengah.

 

Mirza Faishol

Pengurus DKN Laskar Santri Nusantara

Lainnya

Ulama Dari Bogor Yang Menjadi Guru Besar Di Masjidil Haram

Telah Dibaca: 1.008 Islamisasi di daerah Jawa Barat dimulai pada Abd 15 M, dalam perkembanganya ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *