Konsolidasi DKN LSN bersama Santri Nurul Hikmah Jepara

Jepara (12/11/2016).DKN (Dewan Koordinasi Nasional) Laskar Santri Nusantara dan Pondok Pesantren menyelenggarakan acara “Konsolidasi dan Peringatan Hari Pahlawan Nasional” di Pondok Pesantren Nurul Hikmah yang diasuh oleh KH. Nur Kholis, M.Pd.I, Tengguli Bangsri Jepara. Acara tersebut dihadiri 250 peserta yang terdiri dari santriwan/i yang berasal dari berbagai pondok Pesantren di Jepara dan daerah sekitarnya, perwakilan dari organisasi, tokoh agama, tokoh masyarakat dan pejabat pemerintah desa. Acara yang diagendakan dari jam 13.00 WIB tersebut, mengambil tema “Peran Santri dalam Mewujudkan Kebersamaan dan Persatuan dalam Kebhinekaan” dan bertujuan untuk menanam dan menumbuhkembangkan makna hari Pahlawan Nasional dalam sanubari para santri serta penandatanganan siap bela NKRI serta pemaparan kepada seluruh hadirin tentang Organisasi Laskar Santri Nusantara oleh A. Yusuf perwakilan dari DKN LSN yang menjelaskan bahwa LSN ini sebagai wadah untuk menghimpun, mengembangkan dan mendistribusikan segenap potensi sumber daya muda dan santri warga negara Republik Indonesia untuk secara bersama-sama meningkatkan pendidikan, kesejahteraan, kemandiriaan dan sadar serta berpartisipasi dalam mewujudkan politik bagi terwujudnya hak-hak sipil dan politik rakyat, juga sebagai sarana mencetak kader-kader pemuda dan santri agar memiliki komitmen yang tinggi, pemahaman yang utuh dan kemampuan yang andal untuk didaya-gunakan secara maksiamal guna mengamalkan ilmu, pengabdian kepada bangsa, mengamankan aset-aset negeri, mengembangkan kualitas serta menopang keberhasilan upaya-upaya pencapaian cita-cita dan tujuan perjuangan kebangkitan bangsa. Adapun tujuan didirikannya LSN ini untuk mencetak pemuda dan santri Indonesia sebagai kader bangsa yang tangguh, memiliki keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, berkepribadian luhur, berakhlak mulia, sehat, terampil, patriotik, ikhlas dan beramal shalih.

Sholeh selaku keynote speaker menyampaikan dua “soko guru” penyangga berdirinya NKRI: Kyai, Santri dan Pondok Pesantren. Pertama, Kyai, KH. Sholeh mengajukan figur KH. R. As’ad Syamsul Arifin pengasuh Pondok Pesantren Salafiyyah Syafi’iyyah, Sukorejo, Asembagus, Situbondo sebagai representasi ideal posisi penting “Kyai”. KH. R. As’ad adalah seorang pahlawan nasional. Penganugerahan gelar pahlawan nasional beliau berdasarkan Keppres No. 90/TK/Tahun 2016, yang diteken Presiden RI ke-7 Ir. Joko Widodo, pada 9 November 2016. Penganugerahan gelar pahlawan kepada KH.R. As’ad tidak terlepas dari kiprah beliau dalam jihad mengusir penjajah demi menjunjung tinggi kedaulatan NKRI. KH. Sholeh mengatakan:”Setidaknya ada tiga fase peran KH. R. As’ad bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

(1) Era pra-kemerdekaan, KH. R. As’ad menanamkan cinta tanah air dan semangat jihad melalui pesantren dan barisan kerakyatan. Beliau bersama ayahandanya Kyai Syamsul Arifin pada 1914 melaksanakan kegiatan penanaman cinta tanah air di pondok pesantren. KH.R. As’ad bersama dengan ulama NU membentuk barisan paramiliter Sabilillah. Bahkan, KH. R. As’ad sendiri menduduki pucuk pimpinan Sabilillah Jawa Timur.

(2) Era kemerdekaan, KH. R. As’ad menggunakan Pondok Pesantren Sukorejo sebagai tempat latihan baris-berbaris dan perjuangan. KH. R. As’ad bergerak untuk melucuti senjata Jepang di Garahan, Jember (sekitar September 1945). K.H. R. As’ad dan pasukannya ikut serta bertempur melawan Sekutu di Surabaya pada November 1945.

(3) KH. R. As’ad pernah menduduki tampuk jabatan sebagai Dewan Penaehat (mustasyar) Pengurus Besar Nahdhatul Ulama hingga akhir hayatnya. Kedua, santri dan Pondok Pesantren, pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tradisional yang masih bisa survive sampai hari ini. Institusi pesantren mampu memberikan sumbangsih berupa transformasi ilmu-ilmu Islam, pengembangan pendidikan Islam, reprodruksi ulama, serta pemeliharaan tradisi keislaman yang luhur. Bahkan, ekspansi dan konstruksi masyarakat muslim dan santri. Eksistensi dan urgensi pesantren merupakan cerminan dari elaborasi nilai-nilai keislaman dan tradisi pribumi Indonesia asli. Dengan demikian, kedudukan kyai, santri dan Pondok pesantren menduduki posisi penting dan strategis dalam menghadapi dinamika perjuangan tiada akhir untuk mewujudkan kebersamaan dan Persatuan dalam kebhinnekaan untuk mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

A. Yusuf Afifurrohman, Pengurus DKN Laskar Santri Nusantara

Lainnya

Laskar Santri Nusantara mengajak Pencegahan Radikalisme pada Anak

Telah Dibaca: 158 Dewan Koordinasi Nasional (DKN) Laskar Santri Nusantara mengadakan Halaqoh Pencegahan anak dari ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *