Sumber foto : http://images.madiunpos.com/2016/04/siti-aminah-sahal-putri-pendiri-pondok-gontor.jpg

Mendung Duka di Langit Coper

Diilhami dari penuturan kisah salah satu santri putri Pondok Pesantren “Al-Mawaddah” yang juga merupakan kader Laskar Santri Nusantara, Maya Muslika Handayani (Mahasiswi S1 Komunikasi Penyiaran Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta). Menceritakan kisah pertemuan dengan Bunda Aminah melalui sepenggal ceritanya saat nyantri.

 

Ping !!!

Ping !!!

Ping !!!

Siapa pagi-pagi begini BBM aku? Mengganggu waktu istirahatku saja. Ku taruh lagi telepon genggam di tempat semula dan kembali memejamkan mata. Aku lanjutkan tidur yang belum terlalu nyenyak.

Krrrriiiiiingggg…… Krrrriiiiiingggg…… Krrrriiiiiingggg……

Kini, bukan sebuah pesan yang masuk, namun sebuah panggilan masuk ke ponselku. Sontak saja membuatku kesal. Ya, benar-benar mengganggu waktu tidurku saja. Segera saja, ku ambil ponsel yang terus-terusan menjerit dan aku silent.

Adzan Shubuh bergema, dan aku lihat note yang tertera di layar ponsel, pesan singkat dari Nara, sahabat pondokku dulu. Aku dan Nara dulu sama-sama nyantri di Pondok Pesantren Putri “Al-Mawaddah.” Letaknya di desa Coper, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo. Lokasinya tidak terlalu jauh juga dari Pondok Modern Gontor.

Saat membuka note dari Nara, seketika mataku memanas dan bulu kuduk ku berdiri. Tumpah ruah bulir air bening dari mata ini. Dadaku perlahan terasa sesak. Subuh itu, aku menangis sejadi-jadinya.

Dengan sisa isak tangis, ku hamparkan sajadah tepat di hadapan diri ini. Ku mulai dengan Takbiratul Ihram, kujalankan ritual shalat Shubuh dan diakhiri dengan salam di bahu sebelah kiri.

*****

Terulang lagi memori masa laluku. Saat aku menginjakkan kaki di tanah Ponorogo. Dengan senyuman lembut beliau menyambut kedatangan seorang anak manja dan cengeng. Kurasakan dekapan tubuhnya yang amat hangat dan penuh kenyamanan.

Kedua orang tuaku, mengirimkanku ke pesantren untuk menuntut ilmu. Mengapa harus di Al-Mawaddah? Kenapa tidak di Purwakarta? Atau kenapa aku tak disekolahkan negeri saja? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menggangguku. Ingin rasanya aku protes, tapi apalah dayaku. Aku tak suka menentang apa yang diperintahkan orangtua. Toh, ini juga demi kebaikanku, demi masa depanku. Kakak ku pun juga alumni Al-Mawaddah. Aku yakin, aku bisa mengikuti bahkan melebihi jejak kakak ku.

Hari-hariku terus berlalu di penjara suci ini. Bunda Aminah, orang yang menyambut kedatanganku dengan dekapan kasih sayangnya, sudah ku anggap seperti ibuku sendiri. Ya, walaupun memang tidak ada yang bisa menggantikan posisi Bunda kandungku. Setidaknya, di tanah perantauan ini, Bunda Aminah lah yang menggantikan posisi Bundaku.

Hingga tiba dimana saat semua kaum muslim berbahagia mendengar alunan gema takbir. Esok adalah hari kemenangan bagi kum muslim, esok umat muslim merayakan Idul Fitri. Saat dimana semua anggota keluarga berkumpul. Hari penuh kebahagiaan dan kemenangan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa bulan Ramadhan.

Sepertinya kebahagiaan itu tak aku rasakan. Ya, mungkin hanya aku yang tidak merasakan kebahagiaan itu. Aku harus mukim di dalam penjara suci ini. Tak bisa aku pulang dan berkumpul bersama Ayah dan Bunda. Mungkin karena hanya aku yang baru nyantri disini. jadilah saat lebaran pertamaku harus mukim di penjara suci ini.

Aku hanya bisa duduk di pojok lemariku. Aku menangis mengungkapkan semua kerinduan terhadap keluargaku. Di saat seperti itu, aku merasakan tangan selembut sutra membelai kepalaku.

“Ada apa? Bukankah seharusnya semua orang tersenyum pada hari ini?” Sontak, suaranya membuyarkan lamunan kesedihanku. Tangan lembutnya membawa tubuhku untuk duduk bersandar dipelukannya. Air mataku tumpah dalam pelukannya.

“Sudah merasa baikan?” Tanya bunda Aminah. Aku hanya menjawabnya dengan anggukan. Padahal hatiku masih merasa sangat sesak menahan rindu kampong halaman di suasana hari kemenangan.

“Bicaralah anakku! Ceritakan pada Bunda. Mengapa wajah cantikmu harus dihiasi air mata?” Beliau mencoba menghiburku dengan penuh kelembutan.

“Aku rindu keluargaku, Bunda. Aku rindu dengan Bundaku. Kenapa juga aku harus berada disini? Ini tidak adil, Bunda.” Keluhku berisakkan air mata.

“Maafkan Bunda, Sayang. Bunda belum bisa mewakili kehadiran sosok Bundamu di rumah. Tapi, tahukah kamu anakku, Bunda sudah menganggap kamu sebagai anakku sepenuhnya. Kamu gadis kecil Bunda yang cantik. Kelak kamu akan mampu tegak berdiri di atas kakimu sendiri. Bunda yakin, kamu mampu membendung kesedihanmu dalam sukma.”

Aku merasakan air mataku mulai meleleh lagi membahasi pipi. Ku lihat sajadahku sudah mulai basah dengan peluh air mata.

*****

“Anakku, hati-hati di jalan. Dimanapun engkau berada, ingatlah Allah dalam hatimu. Buatlah Allah selalu berada di dekatmu. Sekarang, kamu sudah siap menopang beban di atas pundakmu dan berdiri tegak di atas kakimu sendiri.”

Ku rasakan lagi dekapan hangatnya. Namun kali ini dalam suasana berbeda. Saat-saat lalu, aku mendapatkan dekapan hangat itu saat awal masuk pesantren. Tapi, kini aku harus meninggalkan pesantren dan Bunda Aminah. Aku dijemput orangtuaku untuk melanjutkan belajar di tanah kelahiranku.

Itu adalah pelukan dekapan hangat terakhir dan pesan terakhir beliau yang terus ku ingat sampai detik ini sebelum ku  tinggalkan pesantrenku. Aku mencium tangannya, seraya beliau membelai lembut kepalaku. Langkah kakiku terus berjalan menjauh dari tempat Bunda Aminah berdiri. Aku menoleh lagi ke belakang, Bunda Aminah sedang mengusap air mata yang mengalir di pipinya sambil melambaikan tangannya padaku.

Ku tatap jalan berbatu di hadapanku. Aku bukan lagi gadis manja seperti saat awal  aku menginjakkan kaki di tanah Ponorogo. Kutanamkan langkahku untuk terus berjalan ke depan. Derap langkah kaki ini sudah berjalan menjauh dari gerbang pesantren. Selamat tinggal dan aku selalu merindukan setiap kejadian saat menjadi satri disana.

*****

Masih saja terasa baru kemarin aku menatap matanya yang sejuk. Merasakan dekapan matanya yang nyaman dan belaian kelembutan dari tangannya. Kulihat sang surya mulai menyembulkan sinarnya ke bumi. Ku usap air mataku dan ku angkat kedua tanganku seraya memanjatkan do’a kepada sang Ilahi untuk mengiringi perjalanan Ibundaku tercinta, Bunda Aminah.

“Tuhan, aku titip seorang wanita hebat yang sudah memberikan bekal hidup kepadaku. Pelajaran kehidupan yang berharga dan memaknai arti kehidupan yang sebenarnya. Tuhan, aku merindukannya. Tapi akutahu, Engkau lebih merindunya.”

*****

Pondok Pesantren “Al-Mawaddah” dan juga Pondok Modern Gontor berduka cita atas kepergian Siti Aminah Sahal. Beliau meninggal dunia pada hari Kamis (14/04/16) lalu sekitar jam 05.30 WIB. Beliau merupakan pengasuh Pondok Pesantren Putri “Al-Mawaddah”. Beliau putri dari Ahmad Sahal, pendiri Pondok Modern Gontor dan Sutichah Sahal.

Sebelum memutuskan menjadi pengasuh pesantren, beliau tergolong orang yang aktif. Selain di pesantren, beliau merupakan salah satu dosen di STAIN Ponorogo dan pernah pula menjabat di DPRD Kabupaten Ponoroogo selama satu periode. Beliau merupakan sosok ibu sempurna dan luar biasa menurut kedua anaknya. Selain menjadi Ibu, alamarhumah sering menjadi sosok yang diajak sharing berbagai masalah tentang isu sosial, politik kehidupan dan lain-lain.

Selamat Jalan Bunda Aminah, semoga segala amal ibadahmu diterima di sisi-Nya dan segala dosamu diampuni oleh-Nya.

 

Perwita Suci, Mahasiswi S1 Jurusan komunikasi Penyiaran Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Salah satu kader Laskar Santri Nusantara. 

Lainnya

KH. Hasyim Muzadi dan Sepak Terjangnya

Telah Dibaca: 139 Hasyim Muzadi mempunyai nama lengkap KH. Achmad Hasyim Muzadi, ulama fundamental yang ...

3 Komentar

  1. Sebuah cerita yang mengharukan.. pelajaran yg bisa kita ambi.. mari lah kita senantiasa berbakti dan bebuat baik kpd orang tua kita terutama ibu kita… mari bahagiakan mereka selagi mrk hidup.. sehingga kita bisa meneteskan air mata bahagia kita langsung di hadapan mereka.. jangan tunggu smp mrk sdh tidak ada baru kita menyadari betapa luar biasanya meteka bagi kita…

  2. il primo comprende sentimenti verso l’altro mentre il secondo è un gesto spontaneo verso chi ha bisognoSi rende conto che non esiste una differenza simile? I sentimenti verso l’altro non comprendono gesti spontanei? E chi fa gesti spontanei non ha sentimenti verso l&os127;altro?A8surd#.

  3. I just want to tell you that I’m very new to blogs and truly enjoyed you’re blog site. Almost certainly I’m going to bookmark your site . You amazingly come with very good well written articles. Thank you for sharing with us your blog site.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *